kemarilah, dan lihatlah empat simbol yang sedang kubuat.
satu buka kurung, dua kurung kurawal, dan satu lagi tutup kurung.
yap! empat simbol.
tebaklah, apa yang kuperbuat dengan empat simbol ini?
berimajinasilah dahulu, maka kau akan mengerti arti simbolku ini.
bisakah kau menjawabnya?
tolong bisikkan kepadaku.
kau kebingungan?
tolong turunkan kerutan alismu itu. ini bukan tentang aku mengajarkanmu simbol matematika.
ini mengenai rangkaian empat simbol himpunan yang sedang ku amati dalam diam.
aku mendapatinya sebagai empat simbol yang disebut 'himpunan kosong'
akan kuperlihatkan padamu bagaiman simbol ini menjelma sebagai satu rasa.
satu buka kurung "("
kemudian dua kurung kurawal "{}"
dan diakhiri dengan satu tutup kurung ")"
cobalah kau rangkai keempat simbol itu.
" ({}) "
bisakah kau membaca fikirku?
himpunan kosong.
ya, satu himpunan kosong itu melambangkan pelukmu.
kau menertawaiku?
ya, aku memang terlalu mudah untuk kau tertawakan.
inilah aku, menaruh begitu peluh rindu yang tak sempat kuucap pada setiap kata.
aku rindu. aku merindu.
pelukmu.
cukup saja.
aku mendapati diri mengamati, menulis, dan kembali terdiam pada keempat simbol ini.
himpunan kosong.
tak tau bagaimana untuk sekedar bertanya kabarmu.
tak tau bagaimana rindu menjadi abu. kian menghasut segala pundi menjadi pilu.
terenyuh pada satu rindu. satu peluk untuk membasuh peluh rindu yang kembali dan selalu saja kembali menghentak segenap dada.
acuhkan saja.
aku terbiasa pada malam dingin yang tidak lagi mendengar candamu.
aku terbiasa pada siang terik yang tidak lagi merasa teduh senyummu.
aku terbiasa pada apa empat simbol pada himpunan kosong ini.
tidak mudah untuk sekedar berkata. menaruh diam, terlarut dalam pada wajah yang tak akan mungkin aku sanggup melihatnya.
satu buka kurung, dua kurung kurawal, satu tutup kurung.
di sini, lihatlah ini
aku, cukup dengan " ({}) " mu.





