meyakinimu

Lama Aku mendamba. Mengingin saat itu datang.  Ketika Dia memberi satu kesempatan, diberikannya lagi kesempatan yang lain. Dan kau tau? bahagiakah Aku? selayaknya iya.
Hanya saja Aku terlalu terlena. Terbuai oleh kata bertulis rindu.  Kau tau mengapa? otakku tak mampu berfikir. Berhenti pada satu pusaran ketika kesempatan itu tiba.  Ribuan kata mungkin tidak akan terangkai, daftar semua tanya yang telah lama kusiapkan jauh-jauh hari tak mampu tertanya.  Aliran darah serasa terhenti.  Menyisakan sebuah relung, bahwa waktu terus berputar. Tak perduli berapa lama setiap detiknya mengulang, hanya saja kesempatan itu terlalu singkat.  Belum terbayar semua tunggu yang menjelma menjadi rindu.  Hilang, perlahan tapi pasti. Iya, seperti sediakala.  Kesempatan itu menghilang kembali seiring semua tanya itu tercekat menanti waktunya untuk merengek keluar.
Ada banyak tanya di sini.  Masa lalu? oh bukan. Aku menghapusnya.  Menaruh jauh semua perihal masa lalu. Lantas? kini. Aku terhenti pada satu tempat, di mana Aku belum mampu untuk menanyakannya.  Apa Aku berharap? berharap hingga datangnya kesempatan yang lain? Bisakah Aku mengharap? Bolehkah Aku menjahit kembali asaku yang pernah ada?
Hah. kau tertawa.  Mereka tertawa.  Menertawakan setiap ketololan-ketololan ini.  Untuk apa pernah ada asa? untuk apa semua keyakinan-keyakinan itu? untuk apa jika masih terus menunggu?
Waktu tidak akan pernah membawa semua puing masa lalu pada kehidupan sekarang. Hanya saja di sini masih meyakininya.  Kau percaya pada keyakinan? sama halnya kau mengingin sebuah kaca yang telah hancur dapat kembali seperti sedia kala.  Butuh waktu, proses dan usaha untuk dapat mengembalikannya.  Jika kau yakin, maka semua akan menjadi nyata.
Cukupkah dengan keyakinan semata? Aku bertanya pada malam yang menghantarku menuju mimpi bersamamu.  Mereka tertawa, bahkan selalu tertawa.  Pantaskah Aku tetap pada keyakinanku? atau berbelok menuju pada keyakinan lainnya?
Kau tau.  Hanya satu keyakinan yang boleh dijaga. Hanya satu pula keyakinanku hingga saat ini. Kau. Biarkan Aku menjaga yakinku.  Hingga batas waktu menyadarkan bahwa keyakinan ini salah, maka Aku akan meminta maaf bahwa Aku telah lancang meyakinimu pada setiap kekuranganku.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

m a a f .

1. Maaf, jika Aku masih melihatmu
2. Maaf, jika Aku masih memperhatikanmu
3. Maaf, jika Aku mengingin bertemu denganmu
4. Maaf, jika Aku masih merindumu
5. Maaf, jika Aku masih memimpikanmu
6. Maaf, jika Aku masih menaruh cemburu
7. Maaf, jika Aku pernah hadir dalam hidupmu
8. Maaf, jika Aku masih selalu mengusikmu
9. Maaf, jika Aku hanya berani memanggilmu melalui pesan singkat di ponselku
10. Maaf, jika Aku masih selalu saja menunggumu
11. Maaf, jika Aku masih menaruh hati padamu
12. Maaf, jika Aku masih saja merindu sapamu
13. Maaf, jika Aku belum bisa melupamu
14. Maaf, jika Aku masih belum bisa menatapmu
15. Maaf, jika Aku masih saja mencari cela untuk bertemu tanpa kau menginginnya
16. Maaf, jika Aku masih meyakinmu
17. Maaf, jika Aku selemah ini terhadapmu
18. Maaf, jika Aku masih memendam rasa yang terlalu dalam ini padamu
19. Maaf, jika Aku masih mengharap KITA yang pernah ada
20. Maaf, jika Aku selalu mengencrypte setiap pesanmu di ponselku
21. Maaf, jika Aku terus lancang memohon maaf terhadapmu
22. Maaf, jika Aku terus saja mencintaimu
23. Maaf, jika Aku masih saja terus bertahan, berharap kau akan kembali
24. Maaf, untuk rasa yang terlalu dalam ini
25. Maaf, aku tidak sesempurna yang kau damba
26. Maaf, untuk segala rindu, cemburu, cinta, dan amarah yang tak menentu terhadapmu
27. Maaf, untuk segala kekuranganku
28. Maaf, aku masih saja mencintamu, meski kau tak sesempurna yang ku damba :)


Bengkulu,
16 Mei 2013

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Senjaku ...

lihatlah, perhatikan baik-baik.
Mata yang tak berani memandang seolah memberi jauh harapan itu.  Entah indikasi apa yang membuatnya selalu tertunduk. Tak sadarkan diri atau memang tak ada keberanian untuk itu.  Aku memilih membuatnya menunduk, menutup terhadap hal-hal tertentu.  Aku tak seberani layaknya mentari yang membuka lebar matanya terhadap semua pandangan. Aku hanyalah sebagian dari pandangan yang terkadang tak ada sedikit keberanian tuk memandang, melihat penuh seluruh apa yang ingin ku lihat.
Kamu tau pandangan terindah saat aku membuka mataku? Melihatmu. Terlebih melihatmu tersenyum. Itu impianku.  Bahkan mimpiku.
Memimpikanmu adalah secercah bahagia dalam bathinku.  Yap, saat Aku mulai bermimpi dalam malamku, tak ingin sedetikpun Aku meninggalkan mimpi itu. Berharap segala hal dalam mimpi akan menjadi nyata ketika aku membuka mataku.
hah. Aku memang pecundang. Pengecut terhadap kehadiranmu.  Dibelakangmu ku merindu, namun ketika berada dalam kenyataan, aku memilih diam, menundukkan kepalaku, bahkan menutup mata untuk tidak melihatmu.  Aku gengsi? ya. gengsiku terlampau besar terhadap inginku.
Senjaku, ratusan hari lebih aku menanamkan pundi-pundi keras kepalaku. Melawan rasa gengsi yang ku sendiripun telah muak menahannya.  hingga pada akhirnya mungkin aku akan mengalah, menurunkan gengsiku perlahan demi perlahan. Sulit, nyaris kehilangan harga diri.
ya, aku terlalu memuji harga diriku. Sakit tak terkira saat harga diri terasa diinjak.  Menumbuhkembangkan rasa gengsi adalah jalan keluar terbaik menurutku. Tapi pada nyatanya, terlalu sulit menahan gengsi berkepanjangan...
Kini ketika mata ini terlalu lama menunduk, menahan dan selalu menahan.  Aku menyerah, aku menginginkanmu. Aku menginginkan senyuman hangat pada Senjaku.  Senyuman indah, semanis senyuman yang tak pernah ku punya.
Kau berhasil memberhentikan sepersekian mil detik aliran darah, jantung dan nafasku ketika Aku berhasil menatapmu.  Kau berhasil menurunkan gengsiku pada minus nol derajat ketika puncak gengsiku bahkan telah melampau 1000 derajat hanya dalam hitungan detik kala itu.
Kau berhasil, ya kau berhasil.
Dalam kisahku, tak pernah aku menemukan senja sepertimu.  Senja yang selalu ku kenang, senja yang selalu ku nanti, senja yang selalu ku cari ketika aku membutuhkan bahu untuk melepas penat hidupku.  Kaulah senja yang ku nanti, kau lah senja yang mampu memberi tawa, damai, dan ... rindu.
Terimakasih karna kau pernah hadir dalam ingatan, kau pernah hadir memberikan senja terindah dalam hidupku. Aku menyayangi senjaku, aku masih mencintai senjaku (dulu) ....

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pemilik Rindu ...

Aku menyukai Jang Geun Suk. dan Aku pun masih menyukaimu.  Penyebab utama Aku mencintai aktor Korea ini tidak lebih karna Aku melihatnya memiliki senyum khas sepertimu. Beberapa rekanku mengatakan bahwa Aku terlalu mendramatisir. Bahwa Aku terlalu berlebihan. Bahwa kamu tidak ada mirip-miripnya sama sekali dengan beliau, pun sebaliknya.  Tapi entahlah, mungkin hanya pandanganku saja. Mungkin hanya mata minusku saja yang melihat bahwa Jang Geun Suk ini mirip sepertimu.  
Kamu, mungkin belum lepas dari ingatanku. Belum pudar dari karsaku.  Saat rasa rindu itu mungkin terkadang hadir kembali, bukan melihat fotomu yang membuatku melampiaskan rasa rindu.  Aku lebih baik membuka googleku dan mulai menjelajahi setiap foto aktor Korea tersebut demi menumpahkan rasa rinduku.  
Mengapa? pun Aku tak mampu jika harus memandangi benar foto aslimu.  Bukan hanya ingatan, bukan melampiaskan rinduku, terlebih aku mungkin akan meneteskan air mata jika harus memandangi fotomu di atas segala rinduku yang berkecamuk.
Aku minta maaf untuk segala rindu yang terkadang hadir kembali. Ampunku terhadap rasa yang mungkin masih ada.  Aku mengharapmu? tentu tidak.  Waktu terus berputar, terkadang keinginan memang tidak akan pernah sejalan dengan takdir. Apa yang kulakukan? menantimu? meratapmu? bukan. Aku hanya masih merindumu. Aku masih menyayangmu. Itu saja.
Aku tidak pernah ingin meminta lebih. Ketika itupun Aku juga tidak memintamu.  Semuanya hanya mengalir, membuatku merasa, dan berujung pada rindu yang senantiasa  tertahan.
Ujarku pada setiap senja, berikanku waktu untuk dapat melihat senyum indahmu kembali.  Meluangkan waktuku dan waktumu seperti kala itu.  

Dan mungkin Aku akan berserah pada takdir. Seperti sedia kala, aku telah terbiasa terhadap rasa yang mungkin aku sendiripun tidak akan pernah paham akan berujung seperti apa.  Terhadap rinduku, aku menitipkan sejuta, bahkan rindu yang tak terhitung dan tak berharga ini pada pemilik senyuman sepertimu. Aku hanya menanti ketika saat itu datang kembali. Pun aku tak mengharapmu :)






Bengkulu, Mei 2013
Pemilik rindu pada senyummu

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
- © 2013 LDO. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers