lihatlah, perhatikan baik-baik.
Mata yang tak berani memandang seolah memberi jauh harapan itu. Entah indikasi apa yang membuatnya selalu tertunduk. Tak sadarkan diri atau memang tak ada keberanian untuk itu. Aku memilih membuatnya menunduk, menutup terhadap hal-hal tertentu. Aku tak seberani layaknya mentari yang membuka lebar matanya terhadap semua pandangan. Aku hanyalah sebagian dari pandangan yang terkadang tak ada sedikit keberanian tuk memandang, melihat penuh seluruh apa yang ingin ku lihat.
Kamu tau pandangan terindah saat aku membuka mataku? Melihatmu. Terlebih melihatmu tersenyum. Itu impianku. Bahkan mimpiku.
Memimpikanmu adalah secercah bahagia dalam bathinku. Yap, saat Aku mulai bermimpi dalam malamku, tak ingin sedetikpun Aku meninggalkan mimpi itu. Berharap segala hal dalam mimpi akan menjadi nyata ketika aku membuka mataku.
hah. Aku memang pecundang. Pengecut terhadap kehadiranmu. Dibelakangmu ku merindu, namun ketika berada dalam kenyataan, aku memilih diam, menundukkan kepalaku, bahkan menutup mata untuk tidak melihatmu. Aku gengsi? ya. gengsiku terlampau besar terhadap inginku.
Senjaku, ratusan hari lebih aku menanamkan pundi-pundi keras kepalaku. Melawan rasa gengsi yang ku sendiripun telah muak menahannya. hingga pada akhirnya mungkin aku akan mengalah, menurunkan gengsiku perlahan demi perlahan. Sulit, nyaris kehilangan harga diri.
ya, aku terlalu memuji harga diriku. Sakit tak terkira saat harga diri terasa diinjak. Menumbuhkembangkan rasa gengsi adalah jalan keluar terbaik menurutku. Tapi pada nyatanya, terlalu sulit menahan gengsi berkepanjangan...
Kini ketika mata ini terlalu lama menunduk, menahan dan selalu menahan. Aku menyerah, aku menginginkanmu. Aku menginginkan senyuman hangat pada Senjaku. Senyuman indah, semanis senyuman yang tak pernah ku punya.
Kau berhasil memberhentikan sepersekian mil detik aliran darah, jantung dan nafasku ketika Aku berhasil menatapmu. Kau berhasil menurunkan gengsiku pada minus nol derajat ketika puncak gengsiku bahkan telah melampau 1000 derajat hanya dalam hitungan detik kala itu.
Kau berhasil, ya kau berhasil.
Dalam kisahku, tak pernah aku menemukan senja sepertimu. Senja yang selalu ku kenang, senja yang selalu ku nanti, senja yang selalu ku cari ketika aku membutuhkan bahu untuk melepas penat hidupku. Kaulah senja yang ku nanti, kau lah senja yang mampu memberi tawa, damai, dan ... rindu.
Terimakasih karna kau pernah hadir dalam ingatan, kau pernah hadir memberikan senja terindah dalam hidupku. Aku menyayangi senjaku, aku masih mencintai senjaku (dulu) ....
Senjaku ...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
- © 2013 LDO. Diberdayakan oleh Blogger.






0 komentar:
Posting Komentar