Kesadaranku masih saja menegur bahwa ini salah. Tetap saja menyayangmu terlalu indah bagiku. Tak perlu komunikasi atau pertemuan, aku masih saja menyimpannya. Menyimpan sebuah rasa yang entah hingga kapan aku tak pernah tau.
Pada sosok lain aku pernah mencoba memulai, lagi, berkali, tapi selalu saja tidak pernah membantuku menghilang daya ingatku tentangmu.
Aku mulai merasakan nikmatnya menjadi pecundang. Acap kali membiarkan air mata melihat bahagiamu bukan terhadapku.
Ada rasa ikhlas. Tapi belum cukup melupa setiap rasa yang semakin, bahkan terlalu menaik bertambah menyayangmu.
Mungkin aku mulai berlebihan.
Pada roda waktu aku berjanji untuk segera melupa. Tapi langit berkata lain. Selalu saja rasa ini meluluhlantakan setiap pondasi tak acuh yang ku bangun.
Aku jujur bahwa aku terlalu nyaman berada di sampingmu sejak dulu, kemarin, hingga hari ini. Bolehkah aku?
Tapi takdir masih melarangku. Pada jemari yang sempat ku genggam erat, pelukan yang seakan tidak ingin ku lepas, apakah kau tau?
Aku begitu damai merasa itu.
Jika kau bertanya kenapa aku masih mau menerimamu, maka aku hanya bisa menjawab kenapa kau masih saja mau menemuiku.
Sakiti aku jika memang aku patut untuk disakiti.
Sebab cinta bukan perihal bahagia menurutku.
Rasa sakit adalah sebab cinta yang terlalu dalam ketika ditanam. Memberikan kekokohan hingga kapan mampu bertahan...
Aku tidak menuntut. Aku tidak ingin mengekspose. Aku hanya merasa bahagia ketika ada dan bisa menggenggam kembali jari-jemarimu dalam pelukku. Jangan pergi, jangan menghilang, sebab ini tidak mudah...
sebab ini tidak mudah...
07.30 |
Read User's Comments0
Langganan:
Postingan (Atom)
- © 2013 LDO. Diberdayakan oleh Blogger.





