Bermula dari kisah yang aku tonton di film india yang berjudul "We Are Family". humm, temen-temenku bilang tuh film bener-bener sedih, buat yang nontonnya berderai air mata. Dengan semangat membara, padahal waktu itu mau uts PBO, tapi masih maksa buat nonton dikit di kostan temen. Sekitar 20menitan muter tuh film, masih bagian2 awal, belum kerasa sedihnya. Akhirnya aku putusin buat lanjutin nonton di rumah dengan cara mengcopas film tersebut dari laptop temenku, jangan heran lah ya kalo aku melakukan hal ini. Ngebajak dah lumrah, dah biasa itu yah, hehe.
Setibanya di rumah, aku langsung ngelanjutin nonton lewat dvd, biar gambarnya lebih jelas ketimbang muter dari pc :p . 10 menit, 20 menit, 1 jam, 2 jam, filmnya abis,, berusaha sedih, tapi ga bisa2. heran, diem, mereka bilang film ini SEDIH ! sangat sedih malahan katanya, tapi kenapa aku ga nangis?
well,
aku akan ceritakan sedikit tentang film itu dan kenapa aku ga sedih sedikitpun.
huummm,
film itu bercerita tentang 3 bersaudara yang tinggal bersama ibunya yang single parent karena telah pisah ranjang dari ayah mereka. kekacauan hidup mereka makin menjadi-jadi saat ayah mereka membawa datang seorang wanita dihari ulang tahun si bungsu, dan wajarlah penolakan dan amarah muncul dari 3 bersaudara ini. namun, siapa sangka, mereka harus menerima wanita tersebut yah yang notabene si wanita itu memang wanita baik-baik. mereka terpaksa hidup dengan wanita itu lantaran ibu mereka tervonis dan meninggal dunia karena kanker rahim yang dialaminya. ever after, mereka hidup bahagia bersama ayah dan wanita itu yang sekarang menjadi ibu tiri mereka.
mungkin bagi sebagian temen-temen ngerasa kalo film ini cukup emosional, menyita air mata. but, not for me ! ceritanya memang sedih, tapi tidak seharusnya difilmkan. bagi mereka yang sedang merasakan kisah semacam ini, mungkin akan drop kembali saat menontonnya. dan aku sangat melarang film ini untuk di tonton dalam keluarga besar aku ! banned ! sangat dilarang.
awalnya aku cukup emosional sama film ini, aku boleh sombong kalo film ini memang ga sedih, karna yang aku alamin, yang keluarga besarku alamin lebih perih, lebih sakit, lebih sedih dari ini kisahnya.
sepupuku, 4 bersaudara sepupuku harus hidup dalam kesedihannya di masa mudanya karna kisah hidup yang hampir sama dengan cerita film ini.
si sulung sepupuku masih kelas 2 SMA saat dihadapkan pada kenyataan bahwa ibunya tervonis kanker. dan pada saat dia kelas 3 SMA, saat usianya belum genap 17 tahun dia harus menahan pedihnya kuasa Tuhan saat mengambil kembali Ibu mereka pada 31 Januari 2010 silam.
si tengah pertama, juga sedang kelas 3 SMP saat itu. mereka berdua masih terlalu muda, si tengah pertama ini sempat gagal saat ujian nasional smp dan terlihat wajah lesu saat dia merasakan pahitnya ini semua.
si tengah kedua, sedang memulai masa remajanya di bangku kelas 1 SMP, si tengah kedua ini aktif di Kepramukaan yang merupakan aktivitas kebanggan sang Ibu. si tengah kedua inilah kebanggaan sang Ibu. saat malam merenggut nyawa sang Ibu, si tengah kedua ini sempat berucap padaku
"aii...Ayuk...kami padahal tadi baru menang lomba di pramuka, dak sempat laju nak cerito kek Ibu.."
hening, aku terdiam menahan tangis saat dia berkata seperti itu.
sedangkan si Bungu, masih duduk di bangku 4 SD dan telihat dia tak ingin menangis ketika melihat jenazah sang Ibu terbaring di depannya.
bahkan saat aku memberanikan diri untuk memandikan jenazah, si bungsu masih enggan mendekat melihat dan menyiram tubuh sang Ibu.
tapi, ketika kain kafan akan menutup semuanya, si bungsu tak kuasa lagi untuk tersenyum, gema tangis yang Ia tahan dari semalam membuat seluruh yang ada di rumah mendiang penuh dengan isak tangis.
sungguh kesedihan luar biasa yang aku rasakan sepanjang hidup aku.
kanker itu, bertahun-tahun Ibu mereka bertahan di atas rasa sakitnya dan tak pernah sekalipun beliau mengeluh dengan berucap "ah..sakit". Beliau selalu tersenyum, bahkan masih tersenyum saat kami memberikan ciuman terakhir sebelum senyum itu tertutup oleh kafannya.
kesedihan tak cukup sampai disitu. hanya selang beberapa minggu mereka kehilangan belahan jiwa, penyemangat hidup, si Ayah dengan mudahnya meninggalkan rumah dengan alasan kerja. well, 4 bulan dari kepergian si Ibu, si Ayah telah menikah lagi dan tinggal bersama istri barunya.
sekarang, mereka tinggal berempat di rumah si Ibu, tak ada satupun dari mereka yang ingin lepas atau sekedar melangkah pergi meninggalkan rumah yang penuh kenangan dengan si Ibu. tak peduli mereka pada ayahnya yang sudah beristri lagi, karna bagi mereka Ibu hanya satu, dan di situlah mereka akan hidup hingga pada saatnya kelak.
tak ada satupun dari mereka yang ingin tinggal bersama ayahnya, karna tinggal bersama ayah dengan istri barunya itu bagaikan hidup dalam penjara, terkekang dan penuh amarah.
saat ini, mereka hidup bagai anak-anak terlantar jika dalam kata kasarnya. sedih, pilu, miris melihat kehidupan mereka.
aku tak berhak cerita kenpa mereka enggan tinggal bersama si ayah, karna itu cukup rahasia keluarga. yang jelas, aku bangga jika aku bisa memberikan sedikit senyum di hari-hari mereka. sekedar datang ke rumah mereka atau sekedar memberi minum, atau memberi makan dan melihat mereka tertawa dalam hari-harinya sudah cukup membuatku bahagia.
mereka masih terlalu muda dan tidak mengerti tentang hidup ini. aku sayang kalian. biarlah hidup kalian seperti ini, karna di sinilah kita terlahir, habiskan banyak waktu bersama Ibu, dan akan tiba saatnya kelak kalian akan bahagia seutuhnya. mungkin kebahagiaan seperti bersama Ibu tak bisa lagi kalian rasakan, tapi percayalah, Ibu selalu bangga sama kalian, dan masiha ada kebahagiaan lain yang akan kalian dapatkan setelah ini.
mereka masih terlalu muda dan tidak mengerti tentang hidup ini. aku sayang kalian. biarlah hidup kalian seperti ini, karna di sinilah kita terlahir, habiskan banyak waktu bersama Ibu, dan akan tiba saatnya kelak kalian akan bahagia seutuhnya. mungkin kebahagiaan seperti bersama Ibu tak bisa lagi kalian rasakan, tapi percayalah, Ibu selalu bangga sama kalian, dan masiha ada kebahagiaan lain yang akan kalian dapatkan setelah ini.
tetap berjuang dalam kehidupan, tetap semangat karna kita harus sukses pada akhirnya serta percayalah suatu hari nanti kita akan menggenggam kembali tangan ibu bersama di Syurga-Nya. amiinn :)
teringat celotehan si bungu saat buka puasa 2010 silam :
"tuh tengok Ibu (sambil menunjuk ke poto Ibunya di dinding rumah) senyum-senyum nengok abang botak..hehe"
ada juga si tengah kedua yang membuat puisi berjudul 'Ibuku tercinta' yang cukup membuat air mataku menetes membasahi kertas puisi tersebut :)
We Are Family.
bagaimanapun kisah film itu, kisah 4 sepupuku, atau kisah-kisah teman yang lain pasti mempunyai sisi2 tersendiri tuk dikenang dan dijadikan penyemangat walau hanya demi bertahan dengan kehidupan ini. karna hidup tetap harus berjalan bagaimanpun keadaan yang kita alamin. Tuhan Maha Besar atas segala-galanya.






0 komentar:
Posting Komentar